Tuesday, November 13, 2012

Dilatasi Rindu

7 comments :





Angin pantai senja ini berhembus syahdu, menerbangkan pasir-pasir halus dan meniupkan aroma ombak yang khas. Vani memperhatikan kapal-kapal yang hendak berlabuh, sesekali ia mengambil gambar berbagai sudut pantai. Suasana seperti ini sangat menyenangkan bagi Vani, cahaya jingga saat matahari tenggelam membuat Vani tak henti mengucap nama Allah berkali-kali. Duduk berlama-lama di pantai adalah hal yang paling disukai seorang Vani, Elvani Homairoh wanita muda penyuka fotografi dan tergila-gila dengan pemandangan alam. Ia merasakan dunia baru yang begitu indah saat menjejakkan kakinya pada pasir-pasir basah ataupun bercengkrama dengan kepiting-kepiting kecil di pinggiran pantai. Terkadang ia tak mempedulikan orang-orang yang menyangkanya seperti anak kecil di umurnya yang sudah beranjak 23 tahun ini. Yang penting aku suka, begitu alasannya.

Di saat yang sama, seorang lelaki dengan balutan t-shirt hitam dan celana jeans tampak mendekati Vani. Perlahan ia duduk di bangku kosong yang berada di samping Vani. Tak ada percakapan antara mereka. Vani tengah sibuk menikmati setiap sudut keindahan Pantai Panjang, Pantai di Bengkulu yang konon katanya merupakan Pantai terpanjang di Asia. Sedang  lelaki itu pun tengah asyik memandang Vani dan seorang anak lelaki yang seringkali mengikuti gaya Vani.

Hafiz, anak lelaki itu terlihat begitu bersemangat. Lelaki itu tersenyum, pikirannya kembali terbawa pada kejadian dua tahun silam. Saat dimana Vani memilih untuk membawa Hafiz bersama mereka.
***
Ima merentangkan kakinya di atas pasir pantai. Terasa kehangatan menjalari kaki-kakinya yang basah, matanya nanar memperhatikan kapal yang merapat ke dermaga.

“Abang…” Ima beringsut dari duduknya, melambai-lambaikan tangannya pada kapal  itu.
“Abang…” Ima berteriak lebih kencang dari sebelumnya, lalu berlari mendekati kapal itu.
“Sudah Ima… sudah… itu bukan Abangmu,” Emak seketika menarik lengan Ima yang  hampir menceburkan dirinya pada gulungan ombak.
“Itu pasti Abang mak… itu pasti Abangku, dia pasti datang untuk menjemputku,” Ima tersenyum bahagia sembari melepaskan pegangan Emaknya. Ima melewati ombak, berlari-lari dengan girang. Tapi tiba-tiba ia berdiri mematung dan menangis. Emak hanya geleng-geleng kepala lalu kembali ke rumah.

***
“Abang pasti pulang kan Van,” Vani yang saat itu merupakan sahabat dekat Ima hanya tersenyum pilu. Lalu mengalihkan pandangannya pada Emak.
“Abang mu tak akan pulang, sudah kukatakan berulang-ulang Abangmu sudah mati di laut sana,” sebenarnya Emak tak tega mengatakan hal ini pada Ima, tapi Ima terus saja tak mengerti.
“Mak bohong!” Ima melemparkan ikan yang ada ditangannya, lalu berlari menuju pondokan tempat ia dan Abangnya biasa bercengkrama.

***
“Suatu saat nanti, abang akan mengajakmu berlayar ke tempat yang paling indah ma” Fadli, lelaki yang telah 3 tahun menjadi suami Ima itu tersenyum menatap gadis yang sangat dicintainya.
“Kemana itu bang?”
“Suatu saat kau akan tahu, selepas berlayar abang akan mengajakmu, abang janji!”  Ima terus terisak jika mengingat kata-kata abangnya itu. Janji itu tak akan pernah ditepati, karena Abangnya entah dimana saat ini. Kini ia hanya bisa menunggu di dermaga hingga abangnya pulang.
“Ima orang gila… ima orang gila…”anak-anak yang bermain di pantai terus mengejeknya yang selalu duduk diam di atas pasir pantai. Sesekali Ima melempari anak-anak itu dengan pasir.
“Ima, janganlah begini terus,  kamu masih punya Hafiz, anakmu… satu-satunya harta paling berharga yang Allah titipkan padamu dan Bang Fadli,” Ima hanya hening, sesekali dilihatnya Hafiz yang terus saja merengek. Namun iya seperti hilang kesadaran, membiarkan saja anaknya terbengkalai tak terurus, sedang 
Hafiz baru berusia 2 tahun.

Perlahan hujan turun, pantai yang hangat mulai terasa dingin, bau pasir basah tercium tapi Ima tak beranjak dari dudukannya di pasir.

“Bukankah ini hari ulang tahun pernikahan kita bang? Ima tak akan pulang sebelum Abang tiba” Ima menatap nanar gulungan ombak yang menderu.

“Ima pulanglah,” teriak Emak dari kejauhan. Namun Ima tak berkutik sedikitpun.
“Bang Ima Rindu…” Ima terisak… butir air matanya bersatu bersama tetesan hujan.  Lalu ia berjalan tertatih menuju ombak , masih dengan isak yang ditahan.

***
Vani meneriaki Emak dan memanggil nelayan di sekitar pantai. Ima semakin menuju ke tengah. Vani cemas, tubuh Ima akan terhempas ombak. Hafiz menangis keras.
Plakk… sebuah tamparan keras melayang ke pipi Ima yang masih setengah sadar.
“Sadarlah ma… sadarlah…  jangan seperti ini, jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk hal bodoh seperti ini, lihat anakmu ma.. lihat,” tangis Vani pecah, menderu-deru bersama ombak. Diguncang-guncangnya tubuh Ima yang terlihat begitu rapuh.
Ima menangis lalu merangkul Vani. “Maaf.”

***
“Sebentar lagi Ibu mu akan datang Hafiz,” Vani tersenyum sembari mengelus rambut anak sahabatnya itu. Hafiz, mengingatkannya pada Bang Fadli, sorot matanya yang tajam dan rambut ikalnya begitu persis dengan Bang Fadli. Dua tahun yang lalu Vani membawa Hafiz untuk dirawat karena Ima sedang dalam proses penenangan diri. Vani bersyukur karena waktu itu Allah masih menyelematkan Ima. Ia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Ima.

Banyak hal yang kadang tak sempat kita syukuri. Manusia terlalu naïf untuk mengakui bahwa nikmat Tuhan begitu besar. Bahkan dalam musibah sekalipun. Allah tak akan pernah meninggalkan hamba-Nya dalam kesendirian. Vani meyakini itu, sama saat Ima harus kehilangan Bang Fadli. Ima harusnya tak perlu menyalahkan Tuhan atas semuanya, karena itulah takdir. Takdir yang tak ada satupun yang bisa merubahnya. Hanya kita saja yang harusnya bisa menyikapi apa rencana Allah untuk semua ini.

Vani menoleh ke belakang, dilihatnya bayang seorang wanita berkerudung coklat mendekatinya. Wajah wanita itu terlihat sumringah. Lalu berlari kecil seolah tak sabar untuk menyapa. Bayang itu semakin mendekat lalu memeluk Vani erat.

Ima, ya… dia terlihat berbeda sekarang. Ada asa yang tersimpan dalam binar matanya. Ima yang baru. Lalu dengan tak sabar dipeluknya Hafiz, sendu… wajah Ima terlihat sendu lalu meneteskan air mata.

“Ibu…” walaupun masih kecil anak lelaki itu mengerti arti sebuah kerinduan yang mendalam. Ia pun ikut menangis.

“Terimakasih Van… aku bahkan sangat malu mengingat tingkah ku dulu, Bang Fadli akan sangat marah kalau aku menyia-nyiakan Hafiz.” Vani mengangguk kecil lalu menggenggam tangan Ima.

“Kau pasti kuat,” keduanya tersenyum lalu memandang ombak yang bergulung-gulung dengan langit yang merona jingga. Kebahagian itu ada jika kita ingin menjadikan hidup ini bahagia. Karena disetiap kejadian pastilah ada hikmah yang Allah selipkan untuk kita pelajari, bahwa hidup ini begitu indah dengan segala nikmat yang telah Allah sisipkan. Dan harusnya kita terus bersyukur

7 comments :

  1. ima menganggap kebahagiannya hanya ada pada si abang, padahal msh banyak karunia ia tidak sadari, sampai2 anaknya tidak dianggap rezeki yang harus disyukuri...

    nauzubillah

    ReplyDelete
  2. semoga kita bisa selalu membahagiakan diri kita dengan apa saja ya

    ReplyDelete