Friday, April 20, 2012

De' Exam Mission

29 comments :


De’ Exam Mission

“Gimana ya! Sudah diundang semua.” Diaz memperbaiki letak kacamatanya lalu memperhatikan kertas daftar undangan yang telah disusunnya degan begitu rapi. Surya, lelaki jangkung yang sekarang berada dihadapannya tersenyum pasti, lalu menepuk pundak Diaz perlahan.
“Sipp bos! Ini perjuangan hidup mati, Elvioleto dan semua penghuni Cendana harus hidup tentunya… hihiii…” Surya cengengesan memperlihatkan gigi putihnya yang berjajar rapi. Sedang Diaz menghela nafas panjang, memperhatikan awan yang berarak seperti bangau sedang berenang. Pikirannya terfokus pada satu tujuan. Kebahagiaan penghuni cendana.
***
Kelas yang dinamai Elvioleto itu kini hening, mata mereka tertuju pada Diaz ketua Kelas yang sedari tadi hanya diam, menghela nafas, begitu saja.
“Hello Diaz… are you ok!” Dinda menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan Diaz.
“Hm… nggak juga Din, baiklah… apakah semua sudah siap!” Diaz berdiri tegap dengan semangat.
“Huuu…..dari tadi donk!!” Seisi kelas bersorak.
“Sebenarnya ini berat, tapi saya cuma ingin seiisi Cendana ini berhasil. Walau cara yang kita gunakan.. hmm… sedikit melenceng hihii…” Diaz tertawa terpaksa.
“Aii.. tak perlu lah kau pikirkan melenceng atau tidak, aku pun tak sanggup menghapal buku sebanyak itu! Kita serahkan saja pada juara-juara untuk menghapal. Masa tidak mau bantu teman-temannya sesekali saja.” Satria dengan logat batak nya yang kental mengajukan pendapat.
“Tapi… ini sedikit tidak adil, kita harus minta persetujuan kepada orang-orang yang akan diminta jasanya, termasuk Elvioleto semuanya harus setuju. Tidak ada yang melakukannya dengan terpaksa.” Ungkap Diaz bijak.
“Ya tinggal kau tanyakan sajalah…”
“Hmm… baiklah.. apa ada yang keberatan?” Seisi kelas hening sesaat, namun tiba-tiba, salah satu penghuni elvioleto berdiri dengan gugup. Risma, menunduk lesu. Gadis berjilbab itu terbata-bata hendak mengutarakan pendapatnya.
“Maaf Diaz, sebelumnya… daripada Risma melakukan nya dengan terpaksa, lebih baik diutarakan sekarang. Apakah tidak lebih baik kita mencoba cara yang baik, daripada meniatkan hal seperti ini, Risma takut malah nanti ini nggak diridhoi, bukannya nilai kita bagus, malah dapat celaka.” Mata Risma berbinar, berharap teman sekelasnya mengerti.
“Iya saya tahu, tapi tidak semua teman kita punya kemampuan baik sepertimu Ma, apa tidak bisa sekali ini saja.” Rayu diaz memohon.
“Maaf ya, Risma tetap dalam pendirian. Bukankah ujian masih dua bulan lagi, kenapa kita tidak membentuk kelompok belajar saja, bukannya merencanakan hal negative kayak gini. Ya sudah, kalau nantinya Risma dimusuhi karena ini, tapi Risma tak akan ikut andil kalau rencananya seperti ini.” Risma meninggalkan kelas dengan mata berbinar. Pikirannya campur aduk.
Diaz semakin serba salah, di satu sisi memang hati kecilnya menentang rencana aneh ini, tapi disatu sisi jiwa sosialnya yang tinggi membuatnya harus menjadi komandan rencana ini.
“Ya udah, kalau memang Risma nya nggak mau, kita tetap jalan. Yang mau saja…” Dinda  menggerutu.
“Baiklah… tak usah diperpanjang, saya akan menjelaskan rencana yang sudah disusun oleh semua ketua kelas baik dari IPA maupun IPS, dan sebelum saya jelaskan, saya harap semua mengunci rapat-rapat mulut untuk masalah ini, pihak guru dan pengawas jangan sampai ada yang tahu. Dan Misi ini kita namakan, De’Exam Mission. Hahaa…” Diaz tertawa menirukan gaya pahlawan bertopeng yang mengundang tawa seluruh penghuni Elvioleto.
***
Setelah rapat besar seluruh kelas. Penghuni Cendana terpecah. Ini melebihi demo yang biasa dilakukan mahasiswa. Jika demo hanya ada dua masa pro dan kontra. Cendana sekarang terpecah menjadi 3 kubu. Kubu Pro (Diaz dan kawan-kawan), Kubu Kontra (Risma dan kawan-kawan), dan Kubu Cuek-Cuek Sajalah (Bejo dan kawan-kawan).
“Mau nyontek, mau ngepek… mau belajar.. nilai kita ya tetap seperti itulah… sudah ditakdirkan jadi orang pintar itu susah.” Bejo membelai jambulnya yang mengkilat. Semua orang disekitarnya diam menahan sakit perut mendengar perkataan Bejo yang nauzubillah  sombongnya.
Sedang Risma dan kawan-kawan yang jumlahnya tak lebih dari 10, setiap hari berkumpul di mushola Ramadhan. Menuliskan pelajaran-pelajaran penting dan mereka pelajari bersama. “Tenang saja teman-teman, InsyaAllah kita akan dimudahkan asal berusaha dan berdoa dengan maksimal.” Risma tersenyum pasti, yakin akan keyakinan dan pendiriannya.
***
H-3 De’Exam Mission
“Bah!! Kenapa perutku jadi mules ya akhir-akhir ini.” Sudah hampir satu minggu, Satrio terserang diare yang tak kunjung sembuh.
“Setres yaaa….” Tanya Diaz menggoda.
“Ngapain pula aku seteres-seteres segala. Kan sudah ada orang-orang pintar yang akan membantu kita… hihiii…” Satrio cekikikan sambil memegangi perutnya.
“Bang… sebenernya saya gelisah banget, bukan karena takut nggak bisa menjawab, tapi takut misi kita nggak berjalan dengan lancar.” Diaz menghela nafas dalam-dalam. Satrio manggut-manggut sok mengerti.
“Yah.. kalau begitu….. aku mau ee lagi yahh…”
“%^&!%&%!” Diaz menepuk jidatnya, lalu geleng-geleng kepala.

***
Pagi yang cerah, suasana Sekolah Cendana tampak sepi. Di setiap sudut ruang ujian, semua murid berkumpul, bergerombol mencatat sesuatu.
“Eh kalian nyatetin apa.” Tanya Diaz penasaran.
“Ini lho yaz… buruan catet, keburu bel nih.” Dinda menyerahkan kopelan kecil kertas.
“Eh apa-apaan ni… dapet darimana.” Tanya Diaz kebingungan.
“Udah deh.. nggak usah banyak Tanya, cepet catet aja. Ini susah lho dapet jawabannya, siapa tahu bisa ngebantu.” Jawab Dini kesal.
“Kalian harus hati-hati lho, siapa tahu ini menjebak, sengaja biar nilai kita jatuh, nggak usah percaya sama jawaban usil kayak gini. Kita kan dah sepakat dengan de’exam mission.” Diaz mengusap keringat di keningnya yang mulai bercururan. Teman-teman nya tak ambil peduli, semua semakin sibuk menyalin kopelan yang katanya jawaban soal UN hari itu.
“terserah kalian…” Diaz menghela nafas panjang, dia sudah pasrah apapun yang terjadi. Saat bel berbunyi, Diaz tak semangat seperti sebelumnya, ia berjalan gontai memasuki ruang ujian.
***
Tak disangka-sangka pengawas ujian mereka adalah guru-guru SMA Kartini yang dikenal tak kenal ampun. Muka-muka penghuni Elvioleto terlihat cemas, termasuk Satrio yang sedari tadi menahan mules karena ingin ee. Kasian banget ya… mencretnya kagak sembuh-sembuh.
“Bu… tolonglah!! Aku sakit perut, masa aku harus buang air dikelas ini….” Sontak seisi ruangan tertawa terbahak-bahak mendengar Satrio yang minta izin ke kamar kecil. Sudah 30 menit waktu ujian berjalan, tapi sepertinya dari tadi Satrio hanya sibuk minta izin ke wc.
“Ya sudah.. cepat…” Mendengar lampu hijau dari pengawas, Satrio langsung tancap gas ke kamar mandi sekaligus menjalankan misi untuk mengambil jawaban dari kelas sebelah yang terselip di kamar mandi.

“Ahhh… lega…” Satrio menarik nafas, puas setelah ee di kamar mandi. Setelah selesai dengan hajatnya, Satrio sibuk mengetik sms jawaban yang sudah dia dapatkan tadi.  Dengan lincah, dikirimnya ke seluruh teman-teman yang sudah ditentukan sebelumnya.  Tapi tiba-tiba ada suara dari luar menggedor.
“Heyy… siapa di dalam…lama sekali…” Satrio kalang kabut, tangan nya semakin cepat mengetik tuts tuts handphone. Namun…… tiba-tiba handphone Satrio terlepas. Bruukkk…. Byurrr….gluduk.. gluduk….  Handphone kesayangan terjun bebas ke dalam kloset…
“Ohh Tuhan… mampus aku…... gimana ini… ampun ya Tuhan… bisa ancur masa depan ku.” Satrio sibuk mengorek-ngorek kloset yang baunya Naudzubillah. Tapi penyesalan hanyalah tinggal penyesalan, hp nya pun tak bisa diselamatkan. Satrio berjalan gontai meninggalkan kamar mandi. Matanya nanar memperhatikan muka teman-temannya yang berharap penuh padanya. Kini sia-sia semua misi yang direnanakan.
90 menit berjalan dengan diam. Begitu pun dua hari selanjutnya, mereka tak saling sapa. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Di hari terakhir ujian, Diaz mendekati Risma dengan ragu-ragu.
“Risma. Maaf ya tidak percaya pendapatmu.” Diaz tersenyum pahit
“Hmm.. nggak usah dipikirin Diaz, semua sudah berlalu , yang penting ini ada hikmah untuk kita. Toh kita terhindar kan dari rencana yang sebenarnya nggak baik untuk kita.  Semoga beberapa tahun kemudian kita akan mengerti apa yang terjadi. Tinggal berdoa saja untuk kebaikan kita semua.” Risma berlalu dengan kelegaan.  Dia bersyukur Allah masih melindungi teman-temannya dari perbuatan curang.
***
“Allahuakbar.” Diaz bertakbir lalu sujud di antara hamparan rumput. Matanya tak tahan untuk tidak mengeluarkan air mata. Dipeluknya erat-erat satrio yang juga tadi ikut menangis.
“Sungguh ini keajaiban bang…. “ ucap Diaz tersedu-sedu.
“Iya…” Satrio semakin terisak-isak. Sebuah berita gembira untuk seisi Cendana terkhusus Elvioleto. Murid Cendana lulus 100% dengan peringkat pertama di Bengkulu. Allahuakbar, Sungguh Allah menyayangi mereka semua.


The end
*terkhusus untuk semua teman yang ada di Sekolah Cendana, dan teman-teman seperjuangan. Miss U All



didedikasikan untuk semua adek-adek SD, SMP, SMA yang sudah dan akan melalui salah satu perjuangan yang satu ini. 
nikmatilah, jangan jadikan beban, karena ini akan menjadi salah satu kenangan hidup yang tak akan terlupakan, saat kita sukses nanti. amiinn...^^


29 comments :

  1. keren ceritanya..
    wah, jadi kangen masa masa SMA

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih^^
      iya pasti yg pernah ngelalui masa SMA kangen dgn kenangannya

      Delete
  2. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    Seorang pesimis melihat kesulitan dalam setiap kesempatan,
    orang optimis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan.,
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    ReplyDelete
  3. ini yang masuk antologi uan itu ya, dek?

    ReplyDelete
  4. wahh jadi inget masa-masa sekolah dulu.....suasana ujian jaman dulu sama jaman sekarang berbeda abnget yach...kalo ujian sekrang kayak mau perang aja...banyak polisinya...


    ceritanya bagus banget nechh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya mb, zaman sekrang mah lebayyyy :p

      Delete
  5. betul ! ujian seperti perang,benar-benar uji mental.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yups! dan kita pasti bisa ngelewatinya kok :D

      Delete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Ceritanya sederhana, tapi bermakna. Bagus mba :)

    ReplyDelete
  8. WAH, seruuuuuuuu....!!!!
    salut bwt anak2 Cendana!!!
    (^_^)b

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe mkasih^^
      saya juga bangga jadi salah satu bagian anak cendana

      Delete
  9. hebat sampe segitunya perjuangan tuk lulus hehe, btw keren, cakep, bagus n manfaat ceritanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyahh...
      anak2 skarang emang punya banya

      Delete
  10. izin menyimak ya teh... :)
    salam kenal

    ReplyDelete
  11. kenangan putih abu sangat mengesankan sekali bagi aku

    ReplyDelete
  12. izin menyimak ya mbak... :)
    salam kenal

    ReplyDelete
  13. ikut mampir mbak, salam kenal makasih

    ReplyDelete