Wednesday, December 28, 2011

Solitude

31 comments :

mencintai dan dicintai bukan perkara mudah...
kau harus memberikan utuh-utuh hatimu

           kepercayaanmu

menjaga dirimu
lebih-lebih hatimu
dari siapapun dan rasa apapun yang menawarkan bahagia untukmu


pada saat yang sama
hujan masih turun dengan cara yang sama
masih dengan kerinduan dan kealpaan yang sama

hanya aku yang berbeda
menatap rintiknya lalu membucahkan tangis

tak reda hingga sesak!

aku gagal mencintai dan dicintai untuk kesekian kalinya


utuh-utuh 
namun tak cukup



entah aku yang tak pantas dicintai
atau memang aku belum siap untuk mencintai 
lagi-lagi dicintai...

hingga kadang dalam detik yang hilang
aku menyesali kenapa harus ada rasa 

harusnya tak pernah
hingga tak ada sakit

I'll forget everything
memories
everyplace 
every moment

I'll get better things to do
without you

without love

 




Friday, December 9, 2011

aku hanya

17 comments :
aku tak tahu

apa yang harus ku katakan

sungguh....

lebih-lebih yang harus kulakukan


aku hanya menginginkan hujan turun

membasahi remah-remah mimpiku yang hampir alpa

aku hanya merindukan percikan buih lautan

atau kicauan burung di puncak dempo

aku merindukan diriku 5 tahun yang lalu


Thursday, December 1, 2011

Love in Rain

14 comments :
Love in Rain
chika Rei

Langit begitu kelam, hujan rintik turun perlahan, aku terburu-buru melewati lorong sepi untuk segera kembali ke rumah. Mama pasti mencemaskanku. Harusnya aku tak pulang selarut ini, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Bulu kudukku merinding jadinya saat teringat cerita Uncle Peter tentang hantu-hantu yang bergentayangan di saat hujan rintik. Hantu-hantu itu akan mengikuti gadis perawan kota hingga ke rumah. Menakutinya, hingga gadis-gadis kota menjadi stress dan akhirnya meninggal.
“PRAAANG!”
“Aaaa!” aku berlari ketakutan saat tiba-tiba sebuah suara keras dari arah belakang mengejutkanku. Pikiran-pikiran aneh berkelebat di fikiranku. Aku terus berlari tanpa melihat ke belakang sedikitpun. Entahlah, aku merasa ada seseorang yang mengikuti ku dari belakang. Semakin lama, aku merasa ia semakin dekat. Tidak salah lagi, ada orang di belakangku, bunyi derap langkah berat nya semakin kentara. Ya Tuhan, aku seperti tersesat di kota hantu.
“Hei!” aku berhenti sesaat. Lalu mencoba mengambil nafas dalam-dalam. Berharap yang kudengar hanyalah ilusi.
“Kau baik-baik saja?” aku menoleh ke belakang. Sebuah bayang mendekatiku. Lalu memberikan sebuah kantong plastik berwarna hijau yang ternyata tak sadar kutinggalkan di jalanan karena begitu ketakutan.
“Terima kasih!” ucapku seadanya.
“Light!” aku menerawang begitu jauh saat lelaki jangkung berwajah asing itu menyebutkan namanya. Matanya memancarkan sinar yang tak dapat kudefenisikan. Sinarnya menembus mataku, lalu masuk ke dalam ruang kosong hatiku yang bahkan belum terjamah. Aku hampir tak berkedip dan tergagap.
“A… Anie!” aku tersenyum kaku. Antara ragu dan terpukau.
“Nama yang indah.” Tak ada sedikit ragu pada senyum lelaki bernama Light yang saat ini ada didepanku. Wajahnya mengingatkan ku pada tokoh Death Note dan juga pada tokoh Edward . Hmm, tapi dia tak terlihat dingin sedikitpun. Namun, sepertinya dia akan mengusik hariku.
“Salam kenal!” Light mengulurkan tangan dan aku semakin tak menentu, walaupun akhirnya kuraih juga tangannya yang terasa begitu kaku dan sedikit dingin. Ada keraguan yang entah darimana datangnya, kekagumanku diikuti perasaan aneh dengan sosok asing didepanku.
“Kenapa pulang begitu larut,” Light tersenyum lagi.
“Kau juga kenapa ada disini!” aku membalas denga sewot.
“Hahaa dasar gadis pemarah!” Light mengucek rambutku. Aku pun membalas nya. Kubuat rambutnya yang ikal itu menjadi berantakan. Lelaki aneh yang membuatku ikutan menjadi aneh. Belum genap15 menit aku mengenalnya. Namun ia sudah seperti orang yang mengenalku lebih dari siapapun.
“Ini rumahmu?” Tanya Light saat kami telah tiba didepan rumahku.
“Yup!”
“Baiklah, masuklah, sudah malam. Orang tua mu pasti mencemaskanmu.”
“Lalu, kau kemana?”
“Tentu saja pulang,” Light tertawa geli melihat tingkahku.
“Ya sudah sana pulang!” aku mendorongnya menjauhi pintu rumahku.
“Kau masuk dulu, baru aku pulang!” ia terus saja tertawa, membuatku tambah berang.