Wednesday, September 7, 2011

Ai and Mi

15 comments :

di atas tenor
di atas khayalan-khayalan yang melambung
di sudut-sudut ruang keraguan
menelusuri kealpaan mega
merajut benang-benang kepasrahan
melewati semesta kebisuan

di atas tenor
melambung menggores tinta-tinta kesunyian

di atas tenor
sepi itu bernama sendiri


Sepi Itu Bernama Sendiri
 
Pernahkah kalian merasakan sepi sepertiku? Menjalani hari dengan sahabat bernama sendiri. Adakah yang lebih sepi dibandingkan kesendirian? Sebutkanlah jika ada, agar ku bisa mencari yang lebih sepi daripada sendiri itu. 
 Ini sebuah kehidupan kah? Atau sebuah pengakhiran? Karena tak kurasakan aura hidup melainkan sepi yang berdentang pada tetesan hujan. 

“Kau masih punya sahabat” begitu kata Mi yang sok mengerti apa arti sepi bagiku. Aku hanya mendengus kesal, Ia bahkan tak mengira sahabat ku satu-satunya adalah sepi yang kunamai “sendiri”.
“Ai, kau masih punya keluarga, Mama, Ayah, Ade Syifa, lalu siapakah mereka” Mi.. aku ingin mencekik lehermu jika kau disini. Kau selalu saja pura-pura polos. Enyahlah dari hidupku Mi. Kau terlalu cerewet untuk menemani hariku, kau juga tak bisa membuatku lebih baik. Mungkin aku akan sedikit lebih tenang tanpamu. 

Sepi yang menemaniku telah menjalar ke tiap aliran darahku, lalu tumbuh dalam daging dan tulang. Tak ada yang bisa memisahkan ku darinya, siapapun… termasuk Mi yang selalu saja merecokiku dengan sepi, apapun yang dia lakukan tak bisa memungkiri kenyataan bahwa aku telah memilih Sepi menjadi sahabat sejati. Bukan Mama, bukan Abah, Ade Syifa ataupun Mi. 

Seperti senja ini, disaat orang-orang bergegas menuju Masjid. Aku masih saja mematung bersama sepi. Menikmati deburan ombak yang menggoda ku untuk menemuinya, kedua kakiku tak menolak lebih jauh untuk bercengkrama pada pasir-pasir halus yang terasa hangat. Kadangkala aku tertawa sinis melihat kepiting-kepiting kecil yang bermain petak umpet pada lobang yang dibuatnya di pasir. 

Aku bahkan marah melihat tingkah sok lucu gerombolan kepiting itu. Bisakah kita bertukar tempat? Begitu inginku, begitu ingin hingga membuatku kadang harus menginjak-injak lobang-lobang kecil yang dibuat kepiting-kepiting itu. 

Disaat yang sama Mi menertawaiku, aku benci melihat gayanya tertawa. Matanya yang begitu mirip denganku menyipit dan berair. Lalu Mi menahan perutnya yang sakit karena menertawaiku. 

“Ayolah tertawa Ai… sudah berapa lama sejak aku terakhir kali melihat senyummu,” Mi menggodaku, menyentak bahuku dan menyipratkan air laut yang terasa asin ke mukaku.
“Hentikan Mi… aku bahkan sudah lupa apakah aku pernah tertawa atau tidak,” Mi diam sejenak, lalu tersenyum aneh. Dirangkulnya bahuku sok akrab.
“Aku mengenalmu lebih dari siapapun Ai, tapi kenapa kau tak mengenal dirimu sendiri Ai… coba lihat, lihatlah burung-burung camar yang bermain kejar-kejaran itu, atau lihat ini kepiting-kepiting kecil ini mengejekmu, ehhh atu kau lihat deburan ombak itu mengusirmu… kau tahu apa maksud mereka?”

Aku hening.

“Ayo sholat magrib,” seperti itulah kira-kira.

“Nggak nyambung,” aku menarik nafas tanda aku sangat kesal.

“Hahahaa… ayo pulang, nanti waktu magrib habis,” Mi menarik tanganku kuat sekali. Kalau saja tidak memikirkan kebaikannya yang terus saja menghiburku, sudah ku buang ia ke ombak yang menderu itu.

Aku berjalan malas mengikuti Mi… 

 ----bersambung----

pengen ngelanjutin cerita ini jadi novel dengan judul Ai & Mi
doain ya teman-teman

15 comments :

  1. ai n me???
    bahasa yang unik...sendiri...
    terkadang butuh sendiri..tp disaat ingin berbagi sendiri sungguh tak nyaman...
    disaat ingin berbagi rasa...^^
    sukses novelnya chika...

    ReplyDelete
  2. wow..Ai dan Mi..menarik :)
    lanjutin yaa...
    hmm....mgkn qt bsa berbagi crta bwtan sendiri hihi :D
    salam kenal ;)

    ReplyDelete
  3. mi mau kemana sih?tunggu dong:)
    ditunggu sambungannya

    ReplyDelete
  4. amiiiinn....

    ku juga lagi mau berencana bikin buku/novel, tapi kendala selalu satu. suka stuck mendadak di depan kompie

    ReplyDelete
  5. wahhh smoga sukses yachh ai dan me nya jadi novel......

    pengen juga bisa bikin novel...tp ngga ada bakat hiks....

    ReplyDelete
  6. wah wah wah, saya dukung penuh sob...lanjutkan trs, semoga cpt kelar jd novel ya.. kalo dah jd kabar kabari aku ya..

    ReplyDelete
  7. Wah hebat, iya deh di doain yah B)
    Good luck..

    ReplyDelete
  8. Moga bisa kewujud jadi novel, d, Cik :D
    Huhu..
    Ceritanya keren,, ngiri euy :P

    ReplyDelete
  9. selamat lebaran, mohon maaf lahir dan batin, salam kenal

    ReplyDelete
  10. sebuah awal yang mengalir chik..aku suka bacanya..moga jadi novel ya..aku doain.. :)

    ReplyDelete
  11. Judul yg menarik :P Semangat ya he8..Salam kenal jg:)

    ReplyDelete
  12. sepiiiiii,,, sepi dan sendiri aku benci.

    ReplyDelete
  13. Ai memang punya dunianya sendiri, yang tak terjangkau oleh siapapun. Ayo lanjutkan ceritanya, dek. buat dia tersenyum lagi. Aq tau beberapa pekan trakhir dia jarang sekali tersenyum. :)

    ReplyDelete