Wednesday, July 20, 2011

Si Pesek

29 comments :
Aha...
membuka foto-foto lama bikin tersenyum-senyum sendiri...
seperti membuka memory indah saat aku diliputi kasih yang luar biasa oleh ayah, ibu dan juga adik kecilku...

Chika Pesek
begitulah orang-orang memanggilku
hahaa.. emang benar hidungku pesek banget

ini sebenarnya cerita menggelikan, 26 Mei 1990 saat seorang chika lahir ke dunia, betapa terkejutnya orang-orang yang melihat bayi merah itu, terkejut kenapa? padahal chika lahir normal ! ya tak lain tak bukan karena hidung si chika yang hampir tak keliatan batangnya... hiks hiks...

Ayah tak habis akal, melihat anaknya terlihat seperti tak berhidung, setiap aku bangun pagi, bahkan saat aku mau tidur, ayah menarik-narik hidung si pesek ini, hingga lama kelamaan batang hidungnya mulai kelihatan walaupun tak bisa ,mancung seperti  kajool atau karina kapoor hahaaa....

mau tahu siapa si Pesek? ini dia si Pesek bareng adeknya (Tiud) yang juga sama-sama pesek hihiii

Tiud dan Chika.. cakep gx :D
foto ini diambil di sebuah studio milik temannya ayah, temannya ayah suka banget ngajakin kita foto, katanya chika dan tiud imut-imut gitu hihiiiii.... tapi satu kelemahan si pesek kalo lagi foto, sukanya gigit bibir gitu hahaha... eh mohon dmaklumi fotonya agak lecek ekeke, abisnya foto lama yang di scan pula :D

udah ah ketawanya :D
makasih buat mba fanny yang sudah mengadakan give away foto masa kecil..
kalo kalian punya foto masa kecil buruan ikutan Posting Foto Masa Kecil Berhadiah ^^

jadi pengen tau sahabat blogger kalo kecil nya kayak gimana hihii

Tuesday, July 12, 2011

“Poetry Hujan: Rani! Hujan ini untukmu”

18 comments :

Rani!
tataplah senja
pada rinai berbaur rindu
derunya bagai alunan jemarimu

Rani!
jingga semakin kentara disudut bulir-bulir hujan
seperti asa yang kita terbangkan antara hijau pucuk cemara
mendobrak ombak yang kian bergemuruh
mengepakkan bulu-bulu camar yang basah
sedang, namamu yang tertulis di atas pasir tak jua hilang...
karena telah ku tancapkan nadi mengukir nama yang tak pernah padam

Rani!
dengarlah
hujan makin mengajakmu bercumbu 
sedang riak menggeliat resah, 
layar masih sepi di dermaga
mereka menunggumu, aku pada tepian karang menantimu

kunyanyikan melodi-melodi usang
pada gitar senar tiga...
dalam penantian warna-warna pelangi
ahh.. entah, masih adakah tersimpan kenangan pada kolam tak berikan?
sedang hujan makin ragu kian rindu

Rindu ku Rani...
Rindu ku Hujan...
Hujan... titip rinduku...
untuk Rindu Rani
agar Rindu kita bertemu Rani... 
dalam sebuah lukisan Pelangi....
 

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” 
yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

Friday, July 8, 2011

Antalogi ketiga (Long Distance Friendship)

22 comments :
alhamdulillah... puji syukur pada Allah yang tak henti melimpahkan kasih sayangNya pada kita semua.

siang kemaren, Chika begitu sedih hampir ingin menangis karena sesuatu. Setelah chika lelah berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Ternyata keinginan itu belum Allah kabulkan. Sedih, walaupun chika tahu Allah punya cara lain untuk memberikan kejutan. suatu saat nanti InsyaAllah...

Ternyata Allah menjawabnya tidak lebih dari waktu 30 menit. Sambil menunggu angkot yang langka banget karena kelangkaan BBM, chika buka facebook.Seorang teman, men-tag foto buku yang baru terbit di Leutika Prio.Subhanallah, buku itu ternyata buku kumpulan cerita finalis lomba Long Distance Friendship. Chika hanya bisa mendapatkan 24 besar saat itu ^^ Allah memang punya kejutan-kejutan unik yang tak terduga. ^^ Oh iya tulisan chika di buku ini judulnya Dialog Bisu


Long Distance Friendship

Penulis: Abrar Rifai, Fiani Gee, Naqiyyah Syam, dkk.
Kategori: True Stories
ISBN: 978-602-225-014-2
Terbit: Juli 2011
Tebal: 374 halaman
Harga: Rp. 67.700,00

Deskripsi penulis :

Buku ini ditulis oleh 102 penulis yang kebanyakan, aktif mengikuti lomba-lomba di jejaring sosial bernama facebook. Tema yang umum mengenai pertemanan, mampu merangkum penulis-penulis dari banyak jenjang dan usia. Beberapa penulis telah tergabung dalam satu komunitas penulis. Namun ada pula penulis yang belum terlibat dalam komunitas kepenulisan. Selain itu, di antara teman-teman penulis yang sudah menulis buku sendiri, antologi cerpen, artikel dan puisi, tidak menghalangi penulis lain yang menyebut dirinya baru belajar menulis. Sehingga inilah buku antologi pertama mereka. Semoga dengan terbitnya buku ini. Mampu memicu dan memacu semangat penulis-penulis yang juga merasa baru belajar untuk tetap menuliskan apa yang mereka ingin tuliskan dengan tetap bersemangat.

Deskripsi :

Buku yang berkisah tentang kisah nyata persahabatan di dunia maya. Persahabatan yang terasa nyata, walau tak pernah bersua secara wujud dalam kenyataan. Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa pertemanan di internet melalui situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, Multiply dan lainnya, hanyalah pertemanan semu yang tak pernah akan menjadi nyata dalam kehidupan. Buku ini menjawab ketidak yakinan tersebut. Betapa para penulis dalam buku ini menceritakan tentang keakraban mereka dengan teman-teman mayanya. Berbagai kemanfaatan mereka dapat dari teman-teman yang hanya bisa mereka lihat di layar komputer, silaturahim lewat status, tweet atau ngobrol di ruang chat. Baik melalui chat FB, YM, Gtalk dan lain sebagainya. Saling mengirim hadiah, menasehati satu sama lain, memadu kasih, bahkan ada yang sampai mengubah keyakinan beragamanya. Setiap alur menjadi bukti pertemanan mereka. Setiap tulisan telah mengungkapkan bahwa satu nama, telah menempati satu hati nun jauh di luar kota, luar pulau bahkan luar negeri. Membuat setiap cerita menjadi luar biasa. Simak saja..

Seikat Puisi dalam buku ini :

Bilakah keindahan rasa ini akan sampai.
Sedangkan jarak memisah raga
Namun kebutaan cinta pada jauhnya kita
Menampik setiap ragu tuk terus menyayangmu
Sejauh jiwaku memandang
Maka kutemukan nyaman di ruang ini
Meski belum sanggup kucapai ruang dekapmu
Namun peduliku pada ranah cinta kita
Menyisa asa untuk terus melukis do’a di dinding langit
Sepucuk pinta bagi sebuah jumpa
Hingga dapat kucurah kata meski diam
Dan mampu kuraih jabatmu
Dan kutemukan dunia lain di wujud senyummu
Kepada manusia.. yang terus kucinta..
Sahabatku fillah..
Keajaiban rasa ini.. memenjaraku bersama senandung do’aku..
Duhai kau.. kecantikan hati yang membelengguku
Izinkan kusanding kesederhanaanmu.. dengan kebiasaanku.. yang sangat biasa..

Menjadi temanmu, adalah indah.



Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0821 38 388 988. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Met Order, all!!!

Friday, July 1, 2011

Dua Sisi Maya

29 comments :
Pernahkah kalian merasa begitu dekat dengan seseorang? Bahkan mempercayainya lebih dari segalanya... Menceritakan segala hal padanya, bahkan rahasia yang orang lain tak boleh tau. Mungkin pernah! Lalu bagaimana jika seseorang itu hanyalah sebuah bayangan maya yang hadir di antara layar monitor? tak lebih dari icon-icon yahoo messanger atau sekedar kata-kata yang tak bersuara?

Entahlah, bagiku mereka nyata. Hanya saja ruang kami yang terpisah. 
Maya : Puisi itu adalah sebuah ruang
Aku : Ruang apa May?
Maya : Ruang kita sendiri Ry, dan tak ada yang bisa mengusiknya, tak perduli orang mau berkata apa!

Maya, selalu membuatku terkesima dengan ucapannya, bahkan dengan puisinya yang menurutku begitu mengalir. Indah. Dan penuh rasa. Allah seolah menakdirkan kami berjodoh, dipertemukan dengan puisi. Begitu aku menganggap awal pertemuan kami! berawal  dari sebuah forum. suatu hari ada ajang berbalas puisi, aku dan Maya berlomba-lomba hingga kehabisan ide. Begitu menyenangkan, menemukan seseorang yang memiliki minat yang sama. Aku bisa berbagi dengannya. meminta sarannya, bahkan menangis di depannya. Walaupun nyatanya, hanya menangis di depan monitor sembari mengetik kata-kata.

Maya, selalu membuatku tenang. walau aku pun tak tahu seperti apa wajahnya, dan suaranya sangarkah? lembutkah? entahlah, aku pun tak perduli. Yang aku tahu Maya bisa menjadi sahabatku, dia ada di sampingku saat semuanya tak peduli padaku.

Aku : May, kapan ya kita bisa ketemuan! pengen cerita banyak secara langsung
Maya : Sepenting itukah sebuah pertemuan?
Aku : Hmm menurutku iya
Maya : .......

Tak ada balasan dari Maya. Walaupun aku mengirim email berkali-kali. Aku benar-benar kebingungan. Satu hal yang menjadi hal misterius tentang Maya. Ia selalu marah saat aku menyinggung tentang kopi darat. Padahal aku berencana mengunjunginya akhir minggu ini. Kebetulan aku mendapat mandat dari Kampus untuk mengikuti Pelatihan SAR di Jogja.

Aku tak pernah menyangka, sejak hari itu Maya tak pernah menghubungi ku lagi. Hapenya aktif, tapi tak pernah ada balasan. begitu pun dengan YM atau pun email, seratus kalipun aku meminta maaf tak membuat hatinya luluh.

Hingga suatu hari, seseorang yang mengaku maya mengirim email padaku.
Ria, maaf aku mengganggumu. Tapi aku butuh sekali bantuanmu.

Aku kaget! email dari maya, tapi kenapa emailnya beda? aku berfikir mungkin maya sengaja mengganti emailnya. Karena sudah begitu lama tak menghubunginya, aku langsung saja menanggapinya.
Aku : Ada apa May?
Maya : orang tua ku sakit Ri
Aku : Sakit apa? apa yang bisa aku bantu?
Maya : Aku butuh uang untuk pengobatannya
Aku : Berapa?
Maya : Sekitar dua juta

 Aku berfikir agak lama. Aku tak punya uang sebanyak itu. Tapi Maya begitu kesusahan. Aku memutar otak. Kubongkar semua tabunganku. Aku lihat saldo tabunganku. Aku tanya ayah dan ibu, bahkan ku sms semua temanku. Namun Nihil. Uangku hanya mencapai nominal lima ratus ribu. itu pun harusnya aku bayarkan untuk SPP.

Aku : Maaf may, aku hanya punya lima ratus ribu
Maya : Ya sudah, gx apa2 Ri
Aku : Tapi kamu bisa kok pake uang ku yang lima ratus ribu ini
Maya : benar Ri? terimakasih ya Ri, akan ku kembalikan secepatnya
Aku : Iyah, sama-sama

Aku bahagia. Setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untuk maya. Ingin sekali aku menemaninya, karena aku tahu rasanya saat seseorang yang kita sayangi sakit dan  kesusahan.

Dua hari setelah itu, Maya kembali menghilang... aku kembali menghubunginya, tapi tetap tak ada kabar. Aku kesal. Jujur bukan karena uang, tapi karena sikapnya yang seperti itu. Menghubungi saat dia membutuhkan ku. Tapi dimana dia saat aku membutuhkannya saat ini. Hingga aku mengiriminya sebuah pesan singkat.

"Maya, aku akan ke jogja minggu ini, aku tunggu di Mailoboro hari minggu, jangan sampai tak datang"

***
Hampa. tak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah kehilangan. Maya tak akan datang, bahkan tak ada tanda-tanda Maya akan datang. Sedang langit semakin jingga. Burung-burung berarak, tertawa dalam kerumunan nya. Namun aku sendiri, menatap sepi dalam keramaian Malioboro.
Jika saja tidak ada sebuah sms yang masuk, mungkin aku sudah menangis di tempat aku berdiri.

"Hanya tak ingin membuat mu kecewa. Lebih baik daripada terlambat. Aku tunggu di dekat keraton."  Itu sms dari Maya... ini benar sms dari maya.. Aku tergopoh-gopoh membalas smsnya. memintanya untuk menunggu. Wajahku yang loyo berubah sumringah. Setengah berlari ku susuri jalanan Malioboro menuju keraton. Keringatku mengucur deras. Wajah Maya yang tak pernah kuliat terbayang-bayang di benakku. Mulai dari wajahnya Inneke, hingga wajahnya Demi Lo Vato. Seperti apakah maya? Dadaku berdegup kencang memikirkannya.

Dengan nafas ngos-ngosan aku tiba di plataran keraton. Banyak muda mudi bergerombol disana. Tapi dimana Maya? aku melongo seperti orang linglung. Hingga seorang wanita berjilbab coklat menghampiriku. Dari kejauhan aku bisa melihat matanya yang teduh, Ia tersenyum simpul, memperlihatkan belahan pipinya. Sangat manis, lebih cantik dari bayanganku. Aku berubah gagu. kata-kataku bahkan tercekat ditenggorokan. Kupeluk ia erat. Hangat. Maya... dia sahabatku.

"Maya..." suaraku terdengar parau. Maya hanya mengangguk kecil.
"Akhirnya kita ketemu May, darimana kamu bisa mengenaliku? Bagaimana kabarmu? kenapa tak pernah menghubungiku?" Aku masih gelagapan bertanya pada Maya. Entah ada angin apa, tiba-tiba wajah sumringah Maya berubah pasi, tatapan nya pias. Ia tak mengucapkan apapun, perlahan airmatanya menetes. Aku bingung, Maya memberikan sebuah kertas padaku.

Maaf Ry, aku tak bisa bicara

Aku terdiam pilu. Langit memerah jingga. Tanpa kata kupeluk Maya yang sesenggukan.
"Aku tak pernah mempersalahkan apapun May, tak suaramu tak rupamu, aku hanya butuh kamu sebagai sahabat. Bukankah persahabatan itu tak butuh alasan" Aku semakin memeluknya erat. Sekarang aku tahu kenapa Maya tak pernah mau bicara via telpon, selalu marah saat bicara tentang kopdar. air mataku ikut mengalir seiring senja yang memeluk Keraton.

"Bagaimana kabar orang tuamu? apakah sudah sembuh?" Maya terlihat kebingungan, Ia menggeleng lalu menuliskan  sebaris kalimat di note nya.
Orang tuaku sudah meninggal sejak lama Ry.

Aku kaget bukan kepalang. Lalu siapa yang meminta bantuanku? lalu siapa yang mengaku maya?  Jadi itu bukan Maya? Aku menghela nafas panjang. Maya menenangkanku. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Maya dan Maya. Dua sisi yang berbeda.

Entahlah! sedetik setelah itu aku tak peduli. Ada Maya disampingku. Sahabat terbaikku. Biarlah kata tak bisa mewakilinya, namun aku yakin hati kami saling menyatu, bercengkrama dalam indahnya senja.


Teruntuk sahabat
aku ingin mengarak bunga di antara bias-bias harapanmu
bahkan ingin kuhadirkan pelayaran yang selalu kau rindu
antara harapan
dan asa

ingin kulukis  hatimu
membentuk rangkaian indah dalam senja
kau bagai jingga di pesisir pantai
kau bagai biru di celah kelam


aku bahkan tak bisa bisa bersenandung
untuk mengenangmu




NB: Nama Maya adalah nama samaran, untuk menjaga privasi :) cerita Maya juga pernah chika tuliskan secara singkat di Dialog Bisu

***
INFO LOMBA:

http://www.facebook.com/notes/aulia-zahro/wajib-dibaca-buat-para-calon-peserta-lomba/10150213270365982#!/note.php?note_id=10150190287595982


http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/05/14/lomba-menulis-kisah-nyata-dunia-maya/

http://putrilan9it.multiply.com/journal/item/185/Lomba_Menulis_Kisah_Nyata_Dunia_Maya