Friday, January 28, 2011

Senyum untuk Wandi

18 comments :
Wandi duduk bersila di pelataran masjid. Matanya berkeliaran memperhatikan jemaah yang hilir mudik. Sesakali disapanya salah satu dari jamaah, lalu melambai-lambaikan sarung yang sedari tadi di kalungkan di leher.

“Sudah sholat bang! Semoga masuk surga hahaha..” Wandi tertawa memperlihatkan gigi-giginya yang mulai membusuk. Yang di sapa hanya geleng-geleng kepala, tersenyum lalu pergi. Sehari lima kali, Wandi selalu duduk bersila di depan masjid, tidak untuk sholat, hanya duduk itu saja. Sebagian orang menganggapnya gila, tapi sebenarnya ia tidak gila. Hanya saja orang-orang tak mengerti apa yang dia pikirkan. 20 tahun sejak ia tak memiliki siapapun dan apapun lagi selain sebuah botol susu peninggalan Ibunya, yang hampir tak pernah lepas dari tangannya bahkan saat Ia dewasa kini. Tidur dipelataran rumah kosong, atau di lantai pertokoan beralas tikar. Sehari -hari kerjanya mencabuti rumput, menyapu jalan, dan hanya sebagaian orang saja yang memberi simpati padanya.

***

Langit mulai gelap saat adzan magrib berkumandang. Wandi masih dipelataran masjid, merapikan sandal jamaah yang berantakan. Disusunnya rapi-rapi berjejer di rak sepatu dan sandal. Wajahnya sumringah, puas melihat pekerjaannya. Tiba-tiba ia tersentak, sebuah sentuhan terasa di bahunya. Lelaki berjenggot tipis tersenyum simpul.

“Ee.. . anu pak ustadz.. saya nggak ngambil sandal kok, saya cuma merapikan…” Wandi gemetaran ketakutan.
“Yang bilang kamu ngambil sandal siapa toh? Saya Cuma mau mengajak mu sholat saja…” Lelaki yang dipanggil Pak Ustadz itu merangkul Wandi masuk ke masjid. Tapi Wandi mereganggkan tangannya, menahan pak ustadz agar tak menariknya masuk.
“Kenapa nak?”
“ Saya… saya malu masuk ke masjid pak.” Wandi tertunduk lesu. Tangannya sibuk memainkan sarung yang tak pernah lepas dari lehernya. Pak Ustadz tersenyum lalu menepuk pundaknya.
“Saya mengerti… sehabis isya jangan kemana-mana ya.. kita belajar sholat.” Wandi menegakkan mukanya, memperhatikan Pak Ustadz yang perlahan masuk ke masjid. Wandi pun tersenyum, menatap langit yang mulai kelam, ada angan-angan tergambar di balik sumbulan kabut. Angan-angan yang dari kecil dia pendam. Dan tak ada satupun yang peduli.

***

“Wandi orang gila… wandi orang gila…” anak-anak kecil bergerombol mengelilingi wandi yang gemetaran. Salah satu dari mereka melempari batu, diikuti yang lain melempari sandal dan apapun yang merewka bawa. Wandi hanya merintih menahan sakit pelipisnya yang mulai berdarah.

"Heh ada apa ini, bubar...bubar..." lelaki tua berperawakan keras mencoba menghentikan keributan itu.
"Ini Pak Salim... Wandi nyuri sandal saya pak." Salah satu dari anak-anak itu menunjuk sandal yang Ia lemparkan pada Wandi. Wandi menggeleng ketakutan.

"Anak haram jaddah kau! sudah kukira kau hanya mengganggu orang-orang kampung saja!" Sebuah balok berukuran setengah meter melayang di tubuh Wandi. Gigi Pak Salim gemeretak menahan emosi.
sedang Wandi hanya terdiam, menahan sakit serta isak yang tak tertahankan. Dilihatnya langit mulai menghitam, menurunkan butir-butir hujan diantara kepulan awan. Bayang-bayang Ibunya tampak tersenyum dibalik tetesan hujan.
Hujan semakin deras. Tubuh wandi tergeletak diperempatan jalan menuju masjid. Orang-orang yang lalu lalang tak ada yang peduli. Sebagian mengejek, sebagian mengasihani. Ya, hanya sebatas kasihan, lalu pergi.
"Nak... bangun ..." di antara hujan, seorang lelaki menyadarkannya.
" Bapak sudah menunggu, tapi nak wandi tak datang-datang, ternyata..." Lelaki separuh baya itu menatap miris, lalu mencoba merangkulnya.
"Saya hanya ingin belajar sholat pak." Wandi untuk pertama kalinya menangis.

Hikmah
1. Kita tidak akan pernah bisa menilai seseorang dari Penampilan Fisiknya apalagi menghakimi tanpa bukti yang jelas.
2. Banyak anak berkebutuhan khusus/ anak yatim/ anak terlantar yang bahkan luput dari perhatian kita.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

18 comments :

  1. Wandi hanya ingin belajar sholat, seharusnya orang2 disekitar situ bisa melihat itu bukan malah menghakimi gitu..

    nice story chik :)

    ReplyDelete
  2. eh aku :pertamax: cihuuyy...

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
    Artikel anda akan segera di catat
    Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya

    ReplyDelete
  4. menarik ceritanya dan mengalir dengan sangat baik sampai ending. Tanpa ditulis hikmahpun, kita bisa mendapatkan hikmah

    ReplyDelete
  5. Wandi.. oh Wandi..
    apa yg tjd di negerimu ini..
    Bukan sekedar sakitmu sendiri..
    Muak hati akan kelemahan diri..
    Bumi negeri tak lg melindungi..
    Hidup sendiri bernaung sepi..
    Coba pahami..
    Semakin tak mengerti..
    Tapi ingat satu yg pasti..
    Dirimu tak lepas dari janji..
    Suatu hari semua menghadap Ilahi..
    Persiapkan diri sedari kini..
    Wandi.. oohh.. Wandi..

    ReplyDelete
  6. Semoga menang, tadinya aku mau ikutan tapi, masih belom PD

    ReplyDelete
  7. Waktu sekolah di semarang aku punya teman akrab..Mas Wandi Namanya...dimana ya beliau ini..?

    ReplyDelete
  8. Jujur..aku termenung melihat tulisan ini...Nice Posting...Salam...

    ReplyDelete
  9. Akhirnya ikutan juga diacaranya pak de.
    Sukses buat kontesnya yah.

    Salam.. .

    ReplyDelete
  10. chika............... kangen...
    :)
    hihi, nyempetin bentar ke blognya chika.. hiks, tapi sayangnya nggak sempet posting...
    semangat!! ceritanya keren chik...

    ReplyDelete
  11. @dv

    Selamat ya gan dapat pertamaXXX padahal sekarang lagi mahal lho :)

    BAca judul pertama Wandi=Mandi (maklum mata 5 watt)

    baca lagi, eh ternyata cerpen hehehe

    ReplyDelete
  12. Bagus ceritanya...,

    aku suka sama cerita yang berhikmah.
    like it... ^^

    ReplyDelete
  13. Assalammu'ailukum.. selamat ya rei, terpilih menjadi terbaik 10 di Blogcamp.. Semoga ke depan Benar2 menjadi Penulis.

    ReplyDelete
  14. Hemmmm.., bener2 membawa hikmah... seneng banget bisa baca cerita ini.., penuh hikmah.. thx kawand dah share.. and salam sahabat.. :))

    ReplyDelete